Sabuk Coklat dan Sabuk Hitam Harus Berisi, Giat Jogging dan Pembekalan Gratis Menuju Kader Pelatih Yang Mandiri


Sabuk Coklat dan Sabuk Hitam Harus Berisi, Giat Jogging dan Pembekalan Gratis Menuju Kader Pelatih Yang Mandiri

 


Giat Joging dan Pembekalan Untuk Asisten dan Pelatih Muda Dojo Naga

Oleh: Redaksi Dojo Naga News – 2025

Basah oleh embun pagi dan semangat yang tak pernah padam, para Karateka muda Dojo Naga kembali menunjukkan dedikasi mereka pada kegiatan Giat Joging dan Pembekalan Pelatih Muda yang digelar pada Sabtu pagi. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Sensei Deky Marcose, Ketua Dojo Naga, yang tak henti menegaskan bahwa pembinaan pelatih muda adalah fondasi penting bagi keberlanjutan kualitas sebuah dojo, Minggu 16/11/2025

Cuaca lumayan cerah, atmosfer latihan justru semakin penuh energi. Para karateka sabuk coklat dan sabuk hitam yang mengikuti pembekalan ini tampak bersungguh-sungguh dalam setiap rangkaian aktivitas, mulai dari pemanasan, giat joging, hingga sesi penanaman materi lanjutan yang menjadi inti kegiatan hari itu.

Generasi Pelatih Muda Sebagai Tulang Punggung Masa Depan Dojo Naga

Dalam sambutan pembukaan, Sensei Deky Marcose menyampaikan pesan penting bahwa Dojo Naga tidak pernah “pelit ilmu”. Sebaliknya, setiap karateka muda yang telah memegang sabuk coklat maupun sabuk hitam wajib mendapatkan pembinaan lanjutan. Hal ini bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab dojo dalam mencetak pelatih yang mandiri, berilmu, dan siap mengabdi bagi perkembangan karate di daerah.

“Di Dojo Naga, kita tidak sia-sia membina para generasi muda. Mereka yang sudah sabuk coklat dan sabuk hitam harus kita bekali dengan teknik lanjutan, khususnya teknik melatih junior, teknik perwasitan dan penjurian, serta manajemen mengelola dojo. Itu semua penting agar kelak saat mereka siap membuka dojo sendiri, mereka sudah mampu berdiri mandiri,” ujar Sensei Deky dengan tegas.

Menurut beliau, banyak pelatih muda yang sudah kuat secara fisik dan teknik, namun belum percaya diri membuka dojo karena masih merasa kurang dari segi manajemen, teknik membina murid, atau pemahaman tentang perwasitan dalam pertandingan. Maka dari itu, pembekalan seperti ini menjadi langkah nyata untuk memperkuat kapasitas generasi muda.

Joging Sebagai Pemanasan dan Sarana Menyatukan Semangat

Kegiatan diawali dengan sesi joging bersama sejauh beberapa kilometer. Joging bukan hanya sebagai penghangat otot, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan disiplin. Para peserta tampak berlari sambil bercanda ringan, namun tetap menjaga ritme latihan.

Salah satu peserta, seorang karateka sabuk coklat, mengungkapkan bahwa giat joging bersama ini menjadi momen yang sangat ia nantikan.

“Joging bareng seperti ini bikin kami makin kompak. Apalagi ada sensei yang ikut langsung. Rasanya seperti ditempa bukan hanya fisik, tapi juga mental,” ujarnya sambil tersenyum.

Joging juga menjadi pembuka semangat untuk memasuki sesi pembekalan materi yang jauh lebih serius.

Pembekalan Teknik Cara Melatih Junior

Sesi pertama adalah Teknik Melatih Junior, sebuah kemampuan penting bagi siapa pun yang akan menjadi asisten pelatih atau pelatih utama.

Sensei Deky menjelaskan bagaimana karakter anak-anak berbeda dari remaja dan dewasa. Pelatih harus memiliki:

  • Teknik penyampaian materi yang mudah dipahami
  • Melatih Sesuai Kurikulum Latihan
  • Buatkan Variasi latihan yang menarik
  • Setiap Melatih wajib berikan contoh yang benar

Pelatih muda juga diajarkan bagaimana memberikan contoh gerakan secara efektif, cara memimpin barisan, hingga bagaimana memberi koreksi dengan bahasa yang membangun. Di Dojo Naga, pelatih muda tidak hanya diajarkan “bagaimana melatih”, tetapi mengapa metode tertentu digunakan.

Teknik Perwasitan dan Penjurian: Bekal Utama Karateka Serbaguna

Sesi berikutnya adalah Teknik Perwasitan dan Penjurian, sebuah bidang yang sering diabaikan oleh karateka muda. Padahal, kemampuan memahami aturan pertandingan, memberi komando yang benar, dan melakukan penilaian dengan tepat merupakan keterampilan penting bagi seorang karateka tingkat lanjut.

Sensei Deky menjelaskan bahwa banyak karateka yang telah menguasai teknik bertarung, tetapi ketika diminta menjadi wasit atau juri, mereka tiba-tiba bingung — tidak tahu tanda tangan wasit, tidak tahu aba-aba, bahkan tidak tahu posisi berdiri yang benar.

“Jangan sampai sabuknya saja yang coklat dan hitam, tapi ilmunya nol besar. Disuruh melatih bengong, disuruh jadi wasit juri malah diam. Itu yang harus kita hindari,” tegas Sensei Deky.

Pelatih muda dilatih mempraktikkan aba-aba wasit, penilaian kumite, serta cara memimpin pertandingan dengan tegas dan profesional.

Pembekalan Manajemen Dojo: Dari Administrasi hingga Kepemimpinan

Materi yang tak kalah penting adalah manajemen mengelola dojo. Sensei Deky memaparkan secara gamblang hal-hal yang harus dikuasai pelatih muda sebelum membuka dojo sendiri, seperti:

  • Administrasi pendaftaran siswa
  • Penyusunan jadwal latihan
  • Manajemen keuangan dasar dojo
  • Strategi mempertahankan kedisiplinan
  • Etika kepelatihan
  • Cara berkomunikasi dengan orang tua siswa
  • Pengelolaan kelas dari junior hingga senior

Menurut beliau, seorang pelatih yang sukses bukan hanya kuat secara teknik, tetapi juga mampu mengelola dojo dengan rapi, sopan, dan profesional.

Wajib Mengabdi Sebelum Membuka Dojo Sendiri

Sensei Deky kembali menekankan bahwa mengabdi di Dojo Naga adalah kewajiban bagi pelatih muda sebelum mendirikan dojo baru. Banyak karateka sabuk coklat dan sabuk hitam yang sebenarnya sudah memiliki kemampuan dasar, namun belum siap mental atau belum cukup pengalaman untuk mengajar.

“Saya selalu anjurkan mereka untuk mulai berani membuka dojo sendiri agar bisa mandiri dan punya penghasilan. Namun sebelum itu, mereka wajib mengabdi dulu di Dojo Naga. Bukan hanya membantu dojo ini, tapi untuk menimba pengalaman nyata,” jelas Sensei Deky.

Tidak Boleh Pelit Ilmu: Falsafah Penting Pelatih Dojo Naga

Salah satu pesan paling kuat dalam pembekalan hari itu adalah penanaman sikap tidak boleh pelit ilmu. Sensei Deky menegaskan bahwa seorang pelatih tidak akan pernah maju jika enggan berbagi ilmu kepada murid-muridnya.

“Semakin sering seorang pelatih berbagi ilmu, maka semakin lancar rezekinya. Sebaliknya, jika pelatih pelit ilmu, maka akan semakin seret rezekinya. Pelatih yang pelit ilmu tidak akan mampu bangga jika muridnya pintar bukan karenanya,” ujar beliau.

Di Dojo Naga, filosofi ini sudah menjadi bagian dari budaya latihan. Pelatih yang baik bukan hanya ditandai dengan sabuk yang gelap, tetapi dengan keluasan ilmunya dan keikhlasan dalam membimbing generasi penerus.

Sabuk Coklat dan Sabuk Hitam Harus Berisi

Pada bagian akhir pembekalan, Sensei Deky menutup dengan pesan agar para karateka tingkat lanjut benar-benar berisi, bukan hanya sekadar memakai sabuk warna tinggi.

“Sabuk coklat dan sabuk hitam bukan simbol kosong. Kalau sudah sampai di tingkat itu berarti kalian wajib menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Jangan sampai dibilang sabuknya saja yang coklat atau hitam, tapi ilmunya kosong,” pesannya.

Penutup: Pembekalan yang Menumbuhkan Kemandirian

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan evaluasi singkat. Para pelatih muda terlihat semakin percaya diri dan mantap untuk melangkah ke tahap selanjutnya dalam perjalanan karate mereka.

Giat joging pagi ini bukan sekadar olahraga, dan pembekalan ini bukan sekadar materi. Keduanya adalah bentuk investasi besar untuk masa depan Dojo Naga. Dengan pelatih muda yang semakin matang, mandiri, dan tidak pelit ilmu, Dojo Naga yakin mampu melahirkan generasi karateka yang tidak hanya kuat secara teknik, tetapi juga matang secara karakter dan kepemimpinan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar