Merajuk Dikasih Tahu Pelatih, Bukannya Berubah Malah Kabur: Pentingnya Edukasi dan Peran Orang Tua Dalam Latihan Karate
Dalam lingkungan latihan karate, proses pembinaan tidak hanya berbicara soal teknik, kecepatan, atau kekuatan. Yang jauh lebih penting adalah pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kesadaran diri untuk terus memperbaiki kekurangan. Di Dojo Naga, hal ini sudah menjadi budaya yang dijunjung tinggi, sebagaimana selalu ditekankan oleh Sensei Deky Marcose. Namun, dalam beberapa kesempatan, muncul fenomena baru yang memerlukan perhatian serius: murid merajuk ketika ditegur dan memilih kabur dari latihan, bahkan ironisnya, ada pula orang tua yang ikut mendukung sikap tersebut.
Fenomena ini bukan hanya merugikan perkembangan anak, tetapi juga menghambat tujuan utama dojo—yakni membentuk karateka yang kuat, beretika, dan berprestasi.
Pelatih Mengoreksi Bukan Untuk Menghina, Tapi Untuk Memperbaiki
Dalam setiap sesi latihan, para pelatih selalu memantau seluruh gerakan murid. Ada yang sudah bagus, ada yang perlu diperbaiki, dan ada pula yang masih jauh dari standar teknik. Ketika pelatih mengatakan, “Tolong perbaiki gerakanmu, masih jelek,” itu bukan bentuk kemarahan atau meremehkan. Itu adalah bagian dari pendidikan.
Karate bukan seni bela diri yang asal-asalan. Setiap jurus, kuda-kuda, dan pernapasan memiliki makna. Salah satu hal yang kerap disampaikan oleh Sensei Deky adalah:
“Saya ingin semua murid Dojo Naga gerakannya bagus. Malu kalau sabuk sudah tinggi tapi teknik masih jelek.”
Ungkapan ini bukan untuk mempermalukan murid, melainkan motivasi agar mereka menyadari: sabuk tinggi berarti tanggung jawab lebih besar. Gerakan yang masih asal-asalan tidak hanya menghambat perkembangan pribadi, tetapi juga mencoreng standar kualitas dojo.
Namun, beberapa murid justru merajuk ketika ditegur. Ada yang langsung berhenti latihan, ada pula yang kabur keluar dojo dengan alasan emosional. Padahal, koreksi pelatih adalah hal yang sangat wajar dan harus diterima dalam dunia beladiri.
Sikap Merajuk dan Kabur: Cermin Kurangnya Mental Disiplin
Karate mengajarkan osu no seishin—semangat pantang menyerah dan menerima tekanan sebagai bagian dari proses pendewasaan. Ketika murid merajuk karena ditegur, itu menandakan bahwa ia belum mengerti nilai disiplin karate sesungguhnya.
Contohnya, setiap kali seorang murid melakukan gerakan yang tidak benar, pelatih langsung memperbaiki:
- “Tolong kuda-kudamu rendahkan!”
- “Jangan gerak-gerak saat latihan KATA, harus fokus!”
Ketika pelatih sedang mengawasi, murid bisa menampilkan gerakan yang bagus. Tetapi begitu perhatian pelatih berpindah, ada murid yang kembali melakukan gerakan seenaknya, tidak fokus, dan terlihat malas. Ini bukan masalah teknik semata—melainkan masalah sikap.
Jika sejak awal murid tidak dilatih mentalnya untuk kuat menerima teguran, ia tidak akan bisa berkembang menjadi karateka sejati. Sikap mudah tersinggung dan kabur saat ditegur hanyalah jalan pintas yang merugikan dirinya sendiri.
Peran Orang Tua: Mendukung Pembentukan Karakter, Bukan Ego Anak
Bagian paling memprihatinkan terjadi ketika orang tua ikut menyetujui perilaku negatif anak. Saat anak mengadu, bukannya memberikan nasihat dan meluruskan kesalahpahaman, justru orang tua mendukung anak untuk berhenti latihan atau meminta izin keluar dari dojo dengan alasan yang tidak logis.
Padahal, dalam dunia pendidikan—termasuk karate—orang tua merupakan fondasi penting yang harus bekerja sama dengan pelatih.
Sensei Deky menegaskan:
“Jika ada anak yang mengadu tentang latihan, orang tua seharusnya menghubungi pelatih. Tanyakan apa masalahnya, apa kejadiannya. Bukan langsung membenarkan anak tanpa mengecek kebenaran.”
Ketika orang tua selalu membela anak tanpa melihat konteks, anak akan tumbuh dengan pola pikir:
- Teguran = serangan pribadi
- Koreksi = penghinaan
- Pelatih = lawan
- Kabur = solusi
Ini adalah pola pikir yang sangat berbahaya untuk masa depan anak, baik dalam karate maupun dalam hidup sehari-hari.
Pelatih Tidak Mencari Uang, Pelatih Membentuk Kualitas
Banyak yang tidak menyadari bahwa pelatih karate bukan sekadar “memberikan jasa” seperti les biasa. Pelatih karate menghabiskan waktu, tenaga, dan dedikasi untuk membentuk murid menjadi pribadi yang kuat dan bermoral. Bahkan, Sensei Deky pernah mengatakan:
“Kami sebagai pelatih tidak mau uang orang tua habis sia-sia, tapi gerakan anak masih jelek. Banyak anak latihan seperti ogah-ogahan, tidak fokus.”
Artinya, pelatih benar-benar ingin memberikan yang terbaik. Mereka tidak ingin murid naik sabuk hanya karena waktu atau biaya, tetapi karena kualitas teknik dan sikap yang layak.
Karena itu, setiap teguran adalah bentuk kepedulian—bukan kemarahan.
Latihan Karate Adalah Latihan Hidup
Dalam karate, prinsip yang diajarkan bukan hanya seputar pukulan dan tendangan. Nilai-nilai di dalamnya mencakup:
- Disiplin
- Kerendahan hati
- Mental baja
- Konsistensi
- Keberanian menerima kekurangan
- Tanggung jawab
Jika anak sejak kecil tidak dibiasakan menerima kritik, bagaimana ia akan tumbuh menjadi orang dewasa yang kuat? Bagaimana ia mampu menghadapi kehidupan yang penuh tantangan?
Karate bukan tempat untuk mencari kenyamanan, tetapi tempat untuk membangun kekuatan diri.
Dojo Bukan Tempat Bermain, Dojo Adalah Tempat Belajar
Dojo harus dilihat sebagai ruang pendidikan karakter. Ketika murid datang latihan, mereka bukan sekadar datang untuk berkeringat. Mereka datang untuk belajar:
- Memperbaiki kekurangan
- Mengasah teknik
- Membentuk mental
- Menghormati guru
- Menghargai proses
Jika anak merasa bahwa setiap teguran adalah bentuk kebencian, maka ia belum memahami makna dojo. Tugas orang tua adalah menjelaskan bahwa pelatih memperbaiki karena peduli—bukan memarahi karena benci.
Kesimpulan: Teguran Adalah Kunci Perubahan
Fenomena murid merajuk, kabur dari latihan, dan orang tua yang membenarkan perilaku tersebut harus menjadi perhatian bersama. Jika dibiarkan, dojo akan kehilangan kualitas, dan anak akan kehilangan kesempatan berharga untuk membentuk karakter.
Pelatih menegur bukan untuk memalukan. Orang tua mendidik bukan untuk memanjakan. Murid belajar bukan untuk disanjung, tetapi untuk diperbaiki.
Karate mengajarkan bahwa karakter kuat tidak tumbuh dari pujian—melainkan dari teguran, disiplin, dan kemauan memperbaiki diri.
Dojo Naga tetap berkomitmen membina murid dengan standar tinggi. Karena bagi kami, lebih baik seorang murid ditegur berkali-kali lalu menjadi hebat, daripada dibiarkan salah namun merasa benar sepanjang latihan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar