Penilaian dalam pertandingan kumite merupakan salah satu aspek terpenting untuk menentukan pemenang secara objektif dan adil. Pada aturan terbaru World Karate Federation (WKF) 2024, mekanisme penilaian dijabarkan secara rinci untuk memastikan bahwa setiap teknik yang diberikan nilai benar-benar memenuhi standar teknis, kontrol, dan sportivitas. Artikel ini mengupas secara lengkap bagaimana nilai diberikan, kriteria yang harus dipenuhi, jenis teknik yang dinilai, hingga situasi di mana teknik dianggap sah atau tidak sah.
1. Prinsip Utama Pemberian Nilai
Dalam aturan WKF, nilai diberikan kepada peserta apabila dua juri atau lebih menunjukkan sinyal nilai yang sama, atau ketika kedua Video Review Supervisor menyetujui permintaan nilai (Video Review) yang diajukan oleh pelatih.
Artinya, penilaian tidak hanya bergantung pada satu orang juri, tetapi merupakan hasil persetujuan kolektif sehingga meminimalkan kesalahan. Selain itu, sistem Video Review menjamin bahwa keputusan yang tidak terlihat oleh juri lapangan masih dapat dikoreksi melalui rekaman video.
Nilai hanya bisa diberikan apabila teknik dilakukan dengan kontrol yang baik dan diarahkan ke area sasaran yang sah.
2. Area Sasaran dalam Kumite
Area sasaran yang dinilai dalam kumite dibagi menjadi dua kelompok:
a. CHUDAN (Area Tengah)
Meliputi:
-
bagian tubuh di atas panggul,
-
hingga dan termasuk tulang selangka,
-
tidak termasuk bahu.
b. JODAN (Area Atas)
Meliputi:
-
area di atas tulang selangka,
-
termasuk kepala dan wajah.
Teknik yang mengarah ke salah satu area tersebut harus dilakukan dengan kontrol penuh, tidak membahayakan lawan, dan memenuhi seluruh kriteria penilaian.
3. Kriteria Teknik yang Bernilai
Agar sebuah teknik dinyatakan sah dan dapat diberi nilai, teknik tersebut harus memenuhi enam kriteria utama:
1) Bentuk yang baik (Good Form)
Teknik dilakukan dengan postur, arah, dan mekanika gerakan yang benar sesuai prinsip karate tradisional.
2) Sikap Sportif
Pelaksana menunjukkan niat yang bersih, tidak dengan tujuan mencederai lawan.
3) Semangat yang Teguh (Zanshin)
Teknik dilakukan dengan kecepatan, kekuatan, dan keyakinan yang menunjukkan intensitas serangan.
4) Kewaspadaan (Awareness)
Atlet harus tetap siap dan menghadap lawan sebelum, selama, dan setelah teknik dilakukan.
Jika atlet jatuh sendiri setelah menyerang (tanpa didorong lawan), nilai tidak akan diberikan.
5) Waktu yang Tepat (Timing)
Teknik diberikan pada momen yang akurat—misalnya saat lawan membuka pertahanan atau sedang melakukan serangan.
6) Jarak yang Benar
Teknik harus dilakukan pada jarak efektif. Jika tendangan atau pukulan terlalu jauh dan tidak memiliki potensi untuk mengenai sasaran, maka tidak akan diberikan nilai.
4. Skala Penilaian dalam Kumite
WKF menggunakan tiga jenis nilai: Yuko, Waza-ari, dan Ippon.
1. YUKO – 1 Poin
Diberikan untuk:
-
Tsuki (pukulan lurus)
-
Uchi (lecutan atau pukulan samping)
yang mengenai semua area sasaran: Chudan maupun Jodan.
Contoh teknik bernilai Yuko:
-
Gyaku Tsuki
-
Kizami Tsuki
-
Uraken Uchi
2. WAZA-ARI – 2 Poin
Diberikan untuk:
-
tendangan ke area CHUDAN
Contoh:
-
Mae Geri Chudan
-
Yoko Geri Chudan
-
Mawashi Geri Chudan
3. IPPON – 3 Poin
Diberikan untuk:
-
Tendangan ke area JODAN
Contoh:-
Mawashi Geri Jodan
-
Ushiro Mawashi Geri Jodan
-
Ura Mawashi Geri Jodan
-
-
Teknik apapun yang mengenai lawan saat bagian tubuhnya selain kaki sedang menyentuh matras
(kecuali Hiza-Gamae, yaitu satu lutut yang menyentuh saat melakukan teknik).
Contoh:
Seorang atlet tersungkur, kemudian lawan memberikan Tsuki ke arah Jodan dalam posisi lawan sudah jatuh → Ippon.
5. Kontak dan Kontrol Berdasarkan Kelompok Usia
WKF memberikan batasan berbeda untuk kontak Jodan berdasarkan usia.
1. Dewasa & Junior (16 tahun ke atas)
-
Sentuhan ringan pada Jodan diperbolehkan.
-
Teknik Jodan dapat dilakukan dengan jarak 2–5 cm dari sasaran.
2. Kadet (14–16 tahun)
-
Sentuhan kulit diperbolehkan hanya untuk tendangan.
-
Pukulan Jodan tidak boleh mengenai wajah dengan kontak fisik.
3. Di bawah 14 tahun
-
Teknik Jodan tidak boleh menyentuh sasaran.
-
Jarak harus lebih jauh:
-
Tendangan: maksimal 10 cm
-
Tangan: maksimal 5 cm
-
Peraturan ini dibuat untuk menjaga keselamatan atlet muda.
6. Situasi Teknik Dinilai Sah
Teknik masih dinilai sah apabila:
-
dilakukan bersamaan dengan bunyi bel akhir waktu,
-
juri menekan joystick nilai maksimum 2 detik setelah waktu habis.
Jika pukulan atau tendangan mengenai sasaran tepat saat waktu habis, nilai tetap diberikan.
7. Situasi Teknik Tidak Sah
Beberapa kondisi yang membuat teknik dianggap tidak sah:
a) Dilakukan setelah waktu habis / setelah wasit meneriakkan “YAME”.
Semua teknik setelah perintah berhenti otomatis dibatalkan.
b) Dilakukan saat wasit mengatakan “WAKARETE” (pisah) dan sebelum “TSUZUKETE” (lanjut).
c) Dilakukan ketika pelaku berada di luar area pertandingan (JOGAI).
d) Teknik yang diikuti oleh pelanggaran
misalnya:
-
menarik gi lawan
-
kontak terlalu keras
-
menyapu tanpa teknik lanjutan yang sah.
e) Atlet berbalik setelah menyerang
Kurangnya Zanshin → nilai tidak diberikan.
f) Merupakan pelanggaran peraturan
Termasuk:
-
kontak keras
-
cengkeraman
-
bantingan ilegal
-
teknik berbahaya
8. Serangan Bersamaan (Aiuchi)
Dalam situasi ketika kedua atlet melakukan serangan secara bersama-sama:
-
Hanya teknik pertama yang benar dan efektif yang dinilai.
-
Tetapi jika kedua atlet melakukan kombinasi teknik efektif, maka teknik dengan nilai tertinggi yang dihitung, tanpa melihat urutan serangan.
Contoh:
-
A melakukan Mawashi Geri Chudan → bernilai 2 (Waza-ari)
-
B melakukan Mawashi Geri Jodan → bernilai 3 (Ippon)
Meskipun A melakukan serangan lebih dulu, teknik B bernilai lebih tinggi, sehingga B mendapatkan Ippon.
9. Nilai Dapat Diberikan Tanpa Melihat Titik Benturannya
Juri boleh memberikan nilai meskipun mereka tidak melihat secara jelas titik benturan, asalkan kriteria lainnya jelas terlihat:
-
Form
-
Timing
-
Distance
-
Zanshin
-
Reaksi lawan
-
Kontrol
Contoh:
Serangan cepat yang terhalang tubuh atlet, namun terlihat jelas bahwa teknik mengenai sasaran dengan kontrol yang benar.
Kesimpulan
Penilaian kumite dalam WKF 2024 sangat menekankan keseimbangan antara:
-
teknik yang benar,
-
kontrol,
-
sportivitas,
-
dan keselamatan atlet.
Dengan memahami aturan detail ini, pelatih, atlet, dan bahkan penonton dapat mengetahui secara tepat mengapa sebuah nilai diberikan atau tidak diberikan. Sistem penilaian yang ketat dan terstandarisasi ini membuat pertandingan kumite semakin transparan, objektif, dan adil untuk semua peserta.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar