Cara Memulai, Menunda, dan Mengakhiri Pertandingan Kumite Menurut Peraturan WKF 2024


 


Pertandingan Kumite dalam Karate adalah perpaduan antara teknik, strategi, kedisiplinan, dan etika yang harus dijalankan secara ketat sesuai dengan pedoman resmi Federasi Karate Dunia (WKF). Pada edisi Peraturan WKF 2024, tata cara memulai, menghentikan sementara (menunda), dan mengakhiri pertandingan diatur secara sangat detail agar setiap laga berlangsung aman, sportif, dan adil. Artikel ini mengurai secara lengkap prosedur-prosedur tersebut, termasuk isyarat dan istilah penting yang digunakan oleh Wasit serta alur penghormatan yang wajib dipatuhi oleh setiap peserta.


1. Upacara Penghormatan Sebelum Pertandingan

Sebelum pertandingan dimulai, dilakukan upacara penghormatan formal sesuai tradisi Karate dan aturan WKF. Penghormatan bukan sekadar formalitas, tetapi simbol penghargaan terhadap Dojo, penonton, wasit, juri, serta lawan tanding.

1.1 Tahapan Penghormatan Awal

  1. Wasit memerintahkan peserta dan ofisial menghadap penonton.
    Dengan suara tegas Wasit menyerukan:
    “SHOMEN NI REI!”
    Semua peserta melakukan penghormatan ke arah depan (shomen).

  2. Penghormatan antar peserta.
    Setelah itu Wasit berkata:
    “OTAGAI NI REI!”
    Kedua peserta saling membungkuk dengan hormat satu sama lain.

  3. Ketentuan etika penghormatan.
    Peserta harus membungkuk dengan benar, tidak boleh sekadar anggukan singkat. Anggukan cepat dianggap tidak sopan dan mencerminkan kurangnya respek terhadap lawan dan pertandingan.

Upacara penghormatan ini menegaskan bahwa pertandingan Kumite bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga menjunjung nilai-nilai kehormatan dan keadilan.


2. Prosedur Memulai Pertandingan

Setelah penghormatan selesai, pertandingan dapat dimulai.

2.1 Posisi Wasit dan Juri

Wasit (Shushin) dan keempat Juri (Fukushin) akan mengambil posisi yang telah ditentukan di sekitar area pertandingan. Posisi mereka sangat penting untuk memastikan pengawasan penuh dari setiap sudut matras.

2.2 Peserta Siap di Posisi

Kedua peserta berdiri di tempat masing-masing pada area matras. Setelah saling melakukan penghormatan dengan benar, Wasit mengambil posisi di tengah dan bersiap memulai pertandingan.

2.3 Perintah Memulai

Dengan suara tegas dan jelas, Wasit meneriakkan:

“SHOBU HAJIME!”

Artinya: Pertandingan dimulai!

Pada saat ini kedua peserta diperbolehkan melakukan serangan, pertahanan, taktik, dan teknik sesuai peraturan yang berlaku.


3. Cara Menunda atau Menghentikan Sementara Pertandingan

Dalam banyak situasi, Wasit wajib menghentikan sementara pertandingan demi keselamatan dan kelancaran jalannya laga. Penghentian sementara ini disebut menunda (pause) pertandingan.

3.1 Komando Menghentikan Pertarungan

Untuk menghentikan aksi kedua peserta, Wasit meneriakkan:

“YAME!”

Artinya: Berhenti.

Semua aktivitas serangan harus segera dihentikan setelah komando ini.

3.2 Kembali ke Posisi Semula

Jika diperlukan, Wasit akan meminta peserta kembali ke posisi start dengan komando:

“MOTO NO ICHI!”

Artinya: Kembali ke posisi semula.

Wasit juga akan kembali ke posisi standarnya.

3.3 Situasi yang Mengharuskan Wasit Menghentikan Pertandingan

Wasit wajib menghentikan pertandingan bila terjadi kondisi berikut:


(a) Peserta Keluar Area Pertandingan

Kecuali ketika salah satu peserta akan melakukan teknik nilai terhadap lawan yang sudah keluar zona. Dalam kasus tersebut, Wasit dapat mengizinkan aksi dilanjutkan sampai teknik selesai.

(b) Perintah Merapikan Seragam (Karate-Gi) atau Pelindung

Jika sabuk lepas, rompi pelindung longgar, sarung tangan tidak terpasang benar, Wasit menghentikan pertandingan agar peserta merapikan perlengkapannya.

(c) Terjadinya Pelanggaran

Setiap bentuk pelanggaran, baik ringan maupun berat, memerlukan penghentian untuk memberikan peringatan atau hukuman sesuai aturan.

(d) Cedera atau Sakit

Jika peserta terluka, sakit, atau tidak dapat melanjutkan pertandingan, Wasit menghentikan laga dan meminta pendapat dokter kejuaraan. Dokter menentukan apakah peserta dapat melanjutkan pertandingan atau tidak.

(e) Tangkapan Tanpa Teknik Lanjutan

Jika seorang peserta menangkap lawan namun tidak melakukan teknik efektif atau tidak membantingnya dalam waktu sangat cepat, pertandingan dihentikan.

(f) Keadaan Jatuh Tanpa Teknik Nilai

Jika salah satu atau kedua peserta jatuh dan tidak segera melakukan teknik yang menghasilkan nilai, Wasit menghentikan laga.

(g) Clinch atau Pegangan Tanpa Teknik

Ketika peserta saling memiting atau saling memegang tanpa melakukan lemparan atau teknik nilai, dan tidak mematuhi perintah “WAKARETE!”, pertarungan dihentikan.

(h) Kedua Peserta Saling Menempelkan Dada

Situasi berdiri saling menempel tanpa gerak ofensif segera dihentikan oleh Wasit.

(i) Bergumul di Lantai

Jika kedua peserta tidak berada pada posisi berdiri dan tidak dapat melanjutkan teknik nilai, pertandingan harus dihentikan.

(j) Dua Juri atau Lebih Memberikan Nilai

Jika ada nilai yang disinyalkan oleh minimal dua Juri untuk peserta yang sama, Wasit menghentikan pertandingan untuk memproses nilai tersebut.

(k) Alasan Keselamatan Lainnya

Wasit dapat menghentikan pertandingan jika melihat situasi yang berpotensi membahayakan peserta.

(l) Permintaan dari Kansa atau Manajer Tatami

Jika ada permintaan dari ofisial ini, Wasit wajib menghentikan pertandingan.

(m) Permintaan Video Review

Jika Coach meminta Video Review, pertandingan dihentikan sementara sampai keputusan klarifikasi keluar.

(n) Alasan Lain yang Diperlukan Wasit

Wasit memiliki kewenangan penuh untuk menghentikan pertandingan kapan pun jika dianggap perlu.


4. Proses Pemberian Nilai Saat Pertandingan

Setiap kali terjadi teknik yang sah, Wasit akan menghentikan pertandingan dengan komando “YAME!”, lalu mengumumkan nilai dengan format berikut:

  1. Peserta: AKA (merah) atau AO (biru)

  2. Area serangan:

    • JODAN (atas)

    • CHUDAN (tengah)

  3. Jenis teknik:

    • TSUKI (pukulan)

    • UCHI (serangan tangan)

    • KERI (tendangan)

  4. Jenis nilai:

    • YUKO

    • WAZA-ARI

    • IPPON

Setelah pengumuman nilai, Wasit memulai kembali pertarungan dengan perintah:

“TSUZUKETE HAJIME!”

Artinya: Lanjutkan, mulai!


5. Cara Mengakhiri Pertandingan

Pertandingan Kumite dapat berakhir dalam beberapa cara sesuai aturan WKF.


5.1 Kemenangan Selisih 8 Angka (Point Gap Victory)

Jika salah satu peserta unggul 8 poin dari lawannya, Wasit menghentikan pertandingan dan memberikan nilai yang terakhir.

Wasit kemudian mengangkat tangan ke arah pemenang sambil mengucapkan:

“AO (atau AKA) NO KACHI!”

Artinya: Biru/Merah menang!

Pertandingan selesai seketika.


5.2 Waktu Habis

Ketika waktu pertandingan berakhir, Wasit menghentikan laga dan melihat skor.

Peserta dengan nilai tertinggi dinyatakan menang dan diumumkan dengan prosedur yang sama:

“AO / AKA NO KACHI!”


5.3 Skor Imbang: Keputusan HANTEI

Jika skor sama dan tidak ada keunggulan nilai yang menentukan, maka pertandingan ditentukan melalui HANTEI.

Prosesnya:

  1. Wasit meneriakkan: “HANTEI!”

  2. Wasit meniup peluit.

  3. Keempat Juri langsung memberikan pilihan mereka dengan isyarat tangan.

  4. Wasit kemudian mengangkat tangan untuk mengumumkan pemenang:
    “AO (ATAU AKA) NO KACHI!”

  5. Jika suara Juri imbang 2 vs 2, Wasit yang memutuskan pemenang.


6. Upacara Penghormatan Akhir

Setelah pemenang diumumkan, pertandingan tidak langsung selesai secara seremonial. Harus dilakukan upacara penghormatan akhir.

Urutannya kebalikan dari penghormatan di awal:

  1. Peserta saling menghormat: OTAGAI NI REI

  2. Peserta menghadap shomen: SHOMEN NI REI

Upacara ini menandai bahwa pertandingan telah selesai dengan penuh kehormatan dan sportivitas.


Penutup

Prosedur memulai, menunda, dan mengakhiri pertandingan Kumite menurut Peraturan WKF 2024 dirancang secara sangat terstruktur untuk menjaga keamanan peserta serta menjunjung nilai tradisi Karate. Melalui komando seperti SHOBU HAJIME, YAME, MOTO NO ICHI, hingga AO / AKA NO KACHI, Wasit tidak hanya bertindak sebagai pengawas, tetapi juga penjaga integritas pertandingan.

Pemahaman mendalam terhadap prosedur ini sangat penting bagi peserta, pelatih, ofisial, dan siapa pun yang ingin terlibat dalam olahraga Karate tingkat kompetisi. Dengan mengikuti aturan tersebut, setiap pertandingan dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan penuh kehormatan, selaras dengan nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam Karate

Tidak ada komentar:

Posting Komentar