Jelang Kejurda Gokasi Babel 2025, Dragon Karate Team Giat Latihan di Bukit Dealova Pangkalpinang
Menjelang Kejurda Gokasi Bangka Belitung tahun 2025, tim Dragon Karate semakin intens berlatih di Bukit Dealova Pangkalpinang. Persiapan ini dilakukan sebagai bentuk keseriusan mereka untuk tampil maksimal di ajang provinsi yang akan mempertemukan para karateka terbaik dari berbagai daerah. Bukit Dealova dipilih bukan tanpa alasan. Lokasi ini memberikan suasana terbuka yang mendukung latihan fisik, teknik, dan mental. Selain itu, penyebutan dojo Dragon Karate tetap menjadi bagian penting dalam menguatkan identitas tim yang sedang dipersiapkan untuk turun bertanding.
Latihan dilaksanakan secara rutin dengan intensitas tinggi. Para atlet menjalani berbagai materi seperti penguatan fisik, kihon, kata, dan kumite. Beberapa sesi tambahan juga dilakukan untuk meningkatkan teknik pernapasan dan kecepatan reaksi. Dalam setiap kegiatan, Sensei Deky bertindak sebagai pelatih utama yang mengawasi jalannya seluruh program. Di sisi lain, Senpai Arpan memberikan pendampingan teknis terutama bagi atlet yang masih perlu perbaikan detail gerakan. Kehadiran dua sosok ini membuat suasana latihan menjadi terarah, disiplin, dan tetap komunikatif.
Dalam salah satu sesi latihan, Sensei Deky menyampaikan bahwa intensitas persiapan bukan hal yang bisa ditawar. Ia menegaskan bahwa perjuangan di Kejurda tidak cukup hanya dengan semangat, tetapi harus dibuktikan melalui konsistensi dan kesungguhan sejak latihan. "Kami tidak ingin datang sebagai peserta biasa. Anak-anak dilatih untuk siap bertanding, bukan hanya hadir. Kalau ingin hasil, maka usaha mereka harus sepadan," ujar Sensei Deky saat memberikan pengarahan kepada para atlet. Kutipan ini mencerminkan tekad dan standar pelatihan yang diterapkan di Dragon Karate.
Senpai Arpan juga memberikan pandangan mengenai pentingnya latihan di luar dojo. Menurutnya, adaptasi lingkungan sangat berpengaruh pada kesiapan atlet menghadapi suasana pertandingan. "Bukit Dealova memberi tekanan alam yang berbeda. Saat napas diuji, teknik tetap harus terjaga. Kalau mereka bisa stabil di lapangan terbuka seperti ini, mental tandingnya akan lebih siap," kata Senpai Arpan ketika mendampingi sesi latihan fisik. Ia juga sering membimbing atlet melakukan koreksi pada kuda-kuda, tendangan, dan tempo gerakan.
Latihan di Bukit Dealova dimulai sejak pagi hari. Para atlet diwajibkan hadir tepat waktu dan melakukan pemanasan secara mandiri sebelum instruksi dimulai. Jalur menanjak dan kontur tanah yang tidak rata dimanfaatkan untuk penguatan kaki dan keseimbangan tubuh. Beberapa sesi lari bertahap diterapkan untuk membangun daya tahan. Setelah itu, latihan dasar seperti kihon dilakukan secara berulang untuk menjaga kualitas teknik. Sensei Deky kerap mengingatkan bahwa pukulan dan tendangan harus dilakukan dengan tenaga yang berasal dari pusat tubuh agar stabil dan bertenaga.
Setelah sesi fisik, latihan dilanjutkan dengan kata. Dalam persiapan Kejurda, beberapa atlet difokuskan pada nomor kata perorangan dan beregu. Mereka diminta melakukan pengulangan berkali-kali agar ritme, timing, dan ekspresi gerakan bisa konsisten. Dalam evaluasi internal, pelatih menilai bahwa kekuatan ekspresi dan ketepatan posisi masih menjadi pekerjaan bersama. Para atlet dibimbing untuk memperbaiki transisi gerakan dan menjaga kekuatan di setiap langkah. Latihan kata sering diselingi koreksi langsung agar kesalahan tidak terbawa hingga pertandingan.
Selain kata, kumite juga menjadi materi utama. Meskipun lahan Bukit Dealova bukan matras, latihan simulasi tetap dilakukan dengan pengaturan gerakan yang disesuaikan. Para atlet dilatih membaca peluang serangan, mengatur jarak, dan menjaga kewaspadaan. Senpai Arpan sering memberi contoh bagaimana menjaga posisi tangan dan memanfaatkan kecepatan kaki. Ia menekankan bahwa kumite bukan hanya soal menyerang, tetapi juga pertahanan dan pengendalian diri. Dalam beberapa sesi, ia menunjuk atlet senior untuk menjadi sparring partner bagi atlet junior agar mereka terbiasa menghadapi tekanan.
Kegiatan latihan tidak hanya menyentuh aspek teknik, tetapi juga membangun kekompakan tim. Setiap atlet saling memberi motivasi dan dukungan. Mereka dibiasakan untuk membantu rekannya memperbaiki gerakan dan menjaga kedisiplinan bersama. Interaksi ini membangun rasa percaya diri sekaligus tanggung jawab. Dojo Dragon Karate dikenal menjunjung tinggi nilai hormat dan etika. Hal ini terlihat dari cara atlet menyapa pelatih, menata perlengkapan, dan menjaga sikap selama latihan.
Para orang tua juga memberikan dukungan terhadap program latihan ini. Mereka memahami bahwa ajang Kejurda bukan sekadar kompetisi biasa. Persiapan matang diperlukan agar atlet tidak hanya hadir sebagai peserta pelengkap. Beberapa pengurus ikut membantu mengatur logistik dan jadwal latihan tambahan. Bentuk dukungan ini membuat para atlet merasa diperhatikan dan lebih bersemangat menjalani proses latihan. Mereka tidak hanya membawa nama pribadi, tetapi juga mengemban kebanggaan dojo dan daerah.
Sensei Deky menilai bahwa perkembangan atlet sejauh ini cukup positif, tetapi masih banyak yang perlu diasah. Menurutnya, pencapaian tidak diukur dari kemenangan semata, melainkan dari perubahan sikap dan peningkatan kualitas diri. Ia sering mengingatkan bahwa seorang karateka tidak boleh cepat puas. "Latihan bukan untuk menghabiskan waktu. Setiap gerakan harus punya tujuan. Kalau kalian serius hari ini, hasilnya akan terlihat di pertandingan," ucapnya ketika menutup sesi latihan beberapa hari lalu.
Sementara itu, Senpai Arpan menambahkan bahwa persiapan mental menjadi faktor penting menjelang Kejurda. Ia mengingatkan atlet untuk tidak takut menghadapi lawan dan tidak meremehkan siapa pun. Latihan di Bukit Dealova juga bertujuan melatih ketahanan menghadapi situasi di luar kenyamanan dojo. Ia berharap para atlet bisa tampil dengan percaya diri dan tetap menjaga etika karate. Dalam pengamatan selama beberapa pekan terakhir, ia melihat adanya peningkatan kedisiplinan dan keseriusan dari seluruh peserta latihan.
Menjelang hari pelaksanaan Kejurda, tim Dragon Karate akan terus menjalankan latihan rutin dengan evaluasi terjadwal. Pelatih berencana menambah sesi simulasi pertandingan agar atlet terbiasa dengan tekanan waktu dan pola poin. Mereka juga akan menyusun materi khusus untuk atlet yang diproyeksikan turun pada nomor tertentu. Dengan adanya kombinasi latihan fisik, teknik, dan penguatan mental, tim ini diharapkan mampu tampil kompetitif.
Latihan di Bukit Dealova menjadi simbol komitmen dan kerja keras tim Dragon Karate. Para atlet tidak hanya diuji kemampuannya, tetapi juga karakternya. Pengorbanan waktu, tenaga, dan disiplin menjadi bagian dari perjalanan menuju Kejurda Gokasi Babel 2025. Identitas dojo tetap dibawa sebagai landasan dan sumber semangat. Dengan dukungan pelatih, senior, orang tua, dan pengurus, tim ini optimis dapat menghadapi tantangan yang menanti.
Harapan utama dari latihan ini adalah mencetak atlet yang tidak hanya mampu bertanding, tetapi juga menunjukkan semangat bushido. Nama Bukit Dealova dan dojo Dragon Karate melekat dalam setiap langkah persiapan mereka. Ketika waktu pertandingan tiba, seluruh latihan ini akan menjadi bekal utama untuk bangkit, bertahan, dan berprestasi.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar