Pertandingan Kumite dalam dunia karate merupakan ajang yang menampilkan keterampilan teknik, kecepatan, presisi, kontrol, serta strategi seorang karateka dalam menghadapi lawan. Kumite bukan sekadar pertarungan fisik, tetapi juga demonstrasi sportifitas, disiplin, dan pemahaman mendalam terhadap aturan pertandingan. Untuk memahami jalannya pertandingan, terdapat berbagai istilah penting yang digunakan oleh Wasit, Juri, pelatih maupun atlet. Berikut penjelasan lengkap mengenai istilah dan arti dalam sebuah pertandingan Kumite Karate.
1. Shomen, Shiai-jo dan Posisi Awal
Sebelum pertandingan dimulai, karateka memasuki area pertandingan atau Shiai-jo, yaitu tatami atau matras tempat berlangsungnya duel. Shomen berarti arah depan utama atau posisi kehormatan tempat dewan wasit berada. Atlet biasanya memasuki arena dan berdiri pada posisi Aka (merah) dan Ao (biru).
Di awal pertandingan, wasit memberi komando “Shobu Ippon Kumite / Shobu Sanbon Kumite” sesuai kategori dan aturan pertandingan. Setelah itu wasit memberi aba-aba “Rei!” yang berarti hormat, sebagai tanda saling menghargai antara kedua atlet dan para juri.
2. Hajime – Komando Mulai
Istilah “Hajime!” adalah komando yang paling dikenal dalam dunia karate. Wasit mengucapkannya sebagai tanda bahwa pertandingan resmi dimulai. Pada saat komando ini diberikan, kedua atlet mulai melakukan gerakan ofensif maupun defensif sesuai strategi masing-masing.
3. Yame – Hentikan Pertandingan
Istilah “Yame!” berarti berhenti. Wasit mengucapkannya ketika perlu menghentikan sementara pertandingan, misalnya:
-
terjadi teknik yang sah dan perlu diberikan nilai
-
terjadi pelanggaran
-
situasi berbahaya
-
keluar arena
-
waktu ingin dihentikan
Pada aba-aba ini, atlet harus segera berhenti bergerak dan kembali ke posisi semula.
4. Zanshin – Kesiapan Mental
Zanshin adalah kondisi kesiapsiagaan penuh setelah melakukan serangan. Walaupun bukan perintah verbal wasit, istilah ini penting karena teknik tanpa zanshin biasanya tidak diakui sebagai poin. Zanshin menunjukkan bahwa atlet tetap waspada, seimbang, dan siap jika lawan membalas serangan.
5. Teknik Poin: Ippon, Waza-ari, dan Yuko
Dalam kumite modern (WKF), poin dinilai berdasarkan teknik yang mendarat dengan tepat dan sesuai area sasaran.
Yuko (1 Poin)
Diberikan untuk pukulan atau serangan tangan ke area:
-
kepala
-
wajah
-
perut
-
dada
-
punggung
-
sisi tubuh
Waza-ari (2 Poin)
Diberikan untuk tendangan ke tubuh bagian depan atau samping.
Ippon (3 Poin)
Diberikan untuk:
-
tendangan ke kepala
-
teknik menjatuhkan lawan diikuti teknik sah
Istilah ini menjadi kunci dalam penilaian pertandingan modern dan sangat menentukan strategi seorang karateka.
6. Jogai – Keluar Arena
Jika atlet keluar dari area pertandingan (tatami), baik karena terdorong atau melangkah sendiri, wasit memberi tanda Jogai. Tergantung situasi, Jogai dapat menyebabkan peringatan ataupun pengurangan nilai. Hal ini dimaksudkan agar atlet tetap bertarung di dalam area yang telah ditentukan.
7. Mubobi – Melukai Diri Sendiri
Istilah Mubobi merujuk pada tindakan atlet yang membahayakan dirinya sendiri, seperti masuk tanpa perlindungan, mengikuti serangan lawan tanpa perhitungan, atau melakukan gerakan yang membuat lawan tidak memiliki alternatif selain mengenainya. Mubobi bisa menyebabkan peringatan bahkan penalti.
8. Keikoku, Hansoku-chui, Hansoku
Dalam pertandingan kumite terdapat beberapa tingkatan penalti:
1. Keikoku (peringatan ringan)
Biasanya diberikan untuk pelanggaran kategori kecil, seperti menyentuh terlalu keras atau kontak berlebihan ringan.
2. Hansoku-chui (peringatan keras)
Merupakan peringatan kedua, dan mendekati diskualifikasi. Biasanya diberikan setelah Keikoku jika pelanggaran kembali terjadi.
3. Hansoku (diskualifikasi)
Atlet didiskualifikasi dari pertandingan karena melakukan pelanggaran berat atau berulang-ulang, seperti teknik berbahaya, kontak berlebihan, atau serangan ilegal.
9. Kiken – Mengundurkan Diri
Kiken adalah keadaan ketika peserta tidak dapat atau tidak hadir untuk bertanding. Hal ini terjadi jika atlet menarik diri secara sukarela, tidak mampu melanjutkan pertandingan karena cedera, atau tidak memasuki arena setelah dipanggil beberapa kali. Lawan otomatis menang dengan skor penuh.
10. Shikkaku – Diskualifikasi Total
Berbeda dengan Hansoku, Shikkaku mengeluarkan atlet dari seluruh kejuaraan, bukan hanya satu pertandingan. Biasanya diberikan untuk tindakan tidak sportif, menyerang wasit, atau pelanggaran ekstrem. Shikkaku juga dapat diberikan jika atlet mempertontonkan tindakan memalukan yang mencoreng semangat karate.
11. Tsuzukete dan Tsuzukete Hajime
Ketika pertandingan dihentikan sementara, wasit menggunakan dua komando untuk melanjutkan:
-
Tsuzukete → bersiap melanjutkan
-
Tsuzukete Hajime → lanjut dan mulai kembali
Istilah ini memastikan pertandingan kembali berlangsung dengan teratur.
12. Atoshi Baraku – Sisa Waktu Sedikit
Ketika pertandingan mendekati akhir, biasanya sekitar 10 detik terakhir, wasit atau petugas waktu mengumumkan “Atoshi Baraku!”. Ini memberi sinyal bahwa atlet harus mengatur strategi akhir, bertahan atau menyerang sesuai kondisi skor.
13. Hantei – Penentuan Pemenang
Jika pertandingan berakhir seri dan tidak ada kemenangan melalui poin pertama atau senshu, wasit melakukan Hantei, yaitu keputusan berdasarkan suara mayoritas juri. Setiap juri mengangkat bendera warna Aka atau Ao untuk memilih siapa yang lebih unggul dari segi teknik, serangan efektif, kontrol, maupun sikap sportifitas.
14. Senshu – Poin Pertama yang Sah
Istilah Senshu merujuk pada keunggulan atlet yang pertama kali mencetak poin sah. Jika pertandingan berakhir seri, atlet pemilik senshu akan dinyatakan sebagai pemenang, kecuali ia mendapat penalti berat yang membatalkan hak tersebut.
15. Mawatte – Berputar
Saat prosedur acara dimulai atau berakhir, wasit kadang memberi komando “Mawatte” yang berarti berputarlah. Atlet berputar menghadap arah tertentu sebagai bagian dari tata cara penghormatan.
16. Rei – Hormat
Setiap awal dan akhir pertandingan ditandai dengan perintah “Rei!”. Gerakan hormat merupakan simbol penghormatan kepada lawan, wasit, pelatih, serta nilai-nilai karate.
17. Tsuki, Geri, Uchi – Jenis Teknik
Untuk memahami pemberian poin, kita harus memahami istilah teknik dasar:
-
Tsuki → pukulan lurus
-
Uchi → pukulan memutar/serangan tangan lainnya
-
Geri → tendangan
Teknik seperti Gyaku-zuki, Oizuki, Mawashi-geri, dan Ura-mawashi adalah contoh umum yang sering digunakan dalam pertarungan kumite.
18. Aiuchi – Serangan Bersamaan
Jika kedua atlet mengenai sasaran dalam waktu yang benar-benar bersamaan, wasit memberikan tanda Aiuchi. Pada situasi ini, tidak ada poin diberikan karena tidak menunjukkan keunggulan teknik salah satu atlet.
19. Torimasen – Tidak Sah
Ketika juri menganggap teknik tidak memenuhi kriteria penilaian, mereka memberi tanda Torimasen, artinya poin tidak diterima. Penyebabnya bisa karena:
-
kurang kontrol
-
tidak tepat sasaran
-
timing yang kurang pas
-
tidak ada zanshin
-
jarak yang terlalu jauh
20. Kachi – Pemenang
Pada akhir pertandingan, wasit mengumumkan “Aka no Kachi!” atau “Ao no Kachi!”, yang berarti merah atau biru sebagai pemenang. Pengumuman ini menjadi penutup resmi pertandingan.
Penutup
Istilah-istilah dalam pertandingan Kumite Karate memiliki fungsi penting untuk menjaga jalannya pertandingan tetap tertib, adil, dan aman. Selain itu, istilah tersebut mencerminkan disiplin khas karate yang menjunjung tinggi etika serta penghormatan. Dengan memahami berbagai istilah seperti Yame, Hajime, Ippon, Jogai, Hansoku, hingga Hantei, seorang karateka maupun penonton dapat mengerti proses dan dinamika pertandingan secara menyeluruh.
Semua istilah ini menjadi bagian fundamental dari budaya karate yang berakar pada kedisiplinan, kontrol diri, dan semangat sportifitas. Karate bukan hanya pertarungan, tetapi juga perjalanan pembentukan karakter. Dengan mengetahui istilah dan arti dalam kumite, kita dapat mengapresiasi setiap detik pertandingan dengan lebih baik
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar